Krisis dolar AS dan kebangkitan mata uang BRICS semakin sering muncul di headline ekonomi global, dari kanal YouTube ekonomi rakyat sampai laporan lembaga riset internasional. Istilah "dedolarisasi" pelan-pelan pindah dari forum akademik ke ruang diskusi publik, memicu pertanyaan: apakah kita sedang menyaksikan permulaan akhir dominasi dolar AS? Dan kalau iya, bagaimana nasib negara berkembang seperti Indonesia dan sistem finansial yang selama ini bertumpu pada greenback?
Di satu sisi, dolar AS masih menjadi tulang punggung: lebih dari 80% perdagangan global masih melibatkan dolar, dan sebagian besar cadangan devisa bank sentral di dunia juga tersimpan dalam bentuk mata uang ini. Di sisi lain, blok BRICS—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, plus negara-negara baru yang mulai merapat—berusaha membangun alternatif. Mulai dari perdagangan bilateral pakai mata uang lokal, wacana mata uang bersama, sampai infrastruktur pembayaran lintas negara tanpa lewat sistem berbasis dolar.
Di tengah perubahan besar ini, bisnis dan konsumen Indonesia tidak hidup di ruang hampa. Kurs rupiah, harga impor, biaya logistik, hingga investasi asing bisa ikut terguncang. Di sinilah peran pemahaman yang jernih penting, sama pentingnya dengan infrastruktur komunikasi bisnis yang andal seperti WhatsApp API, OTP, dan solusi Omnichannel dari portal ini yang membantu perusahaan tetap terkoneksi dengan pelanggan meski pasar keuangan sedang tidak pasti.
Apa yang Dimaksud Krisis Dolar AS?
Sebelum membahas BRICS, kita perlu mendefinisikan dulu: apa sebenarnya yang dimaksud dengan krisis dolar AS? Ini bukan sekadar rupiah melemah terhadap dolar atau kurs valas yang naik turun. Krisis di sini merujuk pada menurunnya kepercayaan global terhadap dolar sebagai mata uang cadangan dan alat tukar utama perdagangan internasional.
Dominasi Dolar: Dari Bretton Woods ke Petrodollar
Sejak kesepakatan Bretton Woods tahun 1944, dolar AS diposisikan sebagai jangkar sistem moneter internasional. Awalnya, dolar bisa dikonversi ke emas dengan harga tetap. Setelah Presiden Nixon menutup "jendela emas" pada 1971, sistem beralih ke nilai tukar mengambang, tapi dominasi dolar tetap bertahan, kali ini didukung oleh ekonomi AS dan sistem petrodollar—minyak dunia yang dihargai dan dibayar dalam dolar.
Menurut data IMF yang dirangkum di Wikipedia, sekitar 58% cadangan devisa resmi dunia masih dalam bentuk dolar AS per 2023. Angka ini menurun dari puncaknya yang sempat di atas 70%, tetapi masih menunjukkan dominasi yang sangat besar. Obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi instrumen "paling aman" untuk parkir dana cadangan bank sentral.
Dari Krisis 2008 ke Gelombang Baru Keraguan
Krisis finansial global 2008 membuka mata banyak negara bahwa ketergantungan pada satu pusat finansial—Wall Street dan dolar—punya risiko sistemik. Namun, ketika itu belum ada alternatif nyata. Baru setelah kombinasi beberapa faktor—perang dagang AS-Tiongkok, sanksi keuangan terhadap Rusia, dan munculnya teknologi pembayaran baru—narasi krisis dolar AS mulai terdengar lebih serius.
- Sanksi keuangan: pemblokiran bank Rusia dari sistem SWIFT dan pembekuan cadangan devisa mereka menunjukkan bahwa akses ke dolar bisa dijadikan senjata geopolitik.
- Defisit dan utang AS yang terus membengkak ikut menggerus persepsi "aman" terhadap obligasi AS, meskipun pasar masih menyerapnya.
- Munculnya alternatif pembayaran, dari sistem cross-border Tiongkok (CIPS) hingga percobaan mata uang digital bank sentral (CBDC), membuat imajinasi pasar berjalan: bagaimana kalau suatu hari perdagangan bisa berjalan tanpa dolar?
Krisis Kepercayaan, Bukan Krisis Nilai Tukar Biasa
Yang menarik, "krisis" dolar yang dimaksud banyak analis bukan berarti dolar tiba-tiba anjlok seperti mata uang negara berkembang. Justru, dalam krisis global, dolar sering menguat karena dianggap safe haven. Yang dipertanyakan adalah: sampai kapan dunia mau menyimpan 50–60% cadangan devisa dalam satu mata uang negara yang kebijakannya tidak selalu sejalan dengan kepentingan global?
Di sinilah narasi BRICS masuk, menawarkan janji—atau setidaknya ilusi—bahwa dunia bisa punya alternatif. Bagi pebisnis yang terbiasa pakai invoice dalam dolar dan kirim notifikasi pembayaran lewat WhatsApp API atau SMS dengan Sender ID yang terhubung ke sistem finansial lama, pertanyaannya sederhana: seberapa besar perubahan yang benar-benar akan terasa di level operasional?
Siapa Sebenarnya BRICS dan Apa Ambisinya?
BRICS sering diberitakan seolah-olah blok politik baru yang siap mengguncang Barat. Nyatanya, aliansi ini awalnya hanyalah istilah akronim yang diciptakan Goldman Sachs pada 2001 untuk menggambarkan potensi ekonomi Brasil, Rusia, India, dan China (Afrika Selatan baru bergabung 2010). Dari label pasar modal, BRICS kemudian berubah menjadi forum kerja sama ekonomi dan politik.
Dari Forum Diskusi ke Proyek Alternatif Finansial
Seiring waktu, BRICS mulai mengkonkretkan ambisinya di bidang keuangan:
- Pendirian New Development Bank (NDB) sebagai alternatif parsial terhadap Bank Dunia dan IMF.
- Inisiatif pembayaran lintas negara dengan mengurangi peran dolar, misalnya Rusia-India yang mencoba menyelesaikan transaksi dengan rubel-rupee, atau China-Brasil dengan yuan-real.
- Diskusi (masih sebatas konsep) mengenai mata uang bersama BRICS atau unit akuntansi regional yang didukung komoditas.
Meski belum ada "BRICS coin" yang bisa Anda cek kursnya di aplikasi bank digital, arah kebijakannya jelas: mengurangi ketergantungan pada infrastruktur finansial yang dikuasai Barat. Ini mirip dengan bagaimana brand-brand besar di Indonesia beralih dari satu kanal komunikasi ke solusi Omnichannel yang lebih beragam—email, RCS, WhatsApp API, SMS—agar tidak tergantung pada satu pintu saja. Portal ini sering memposisikan solusi komunikasinya dengan logika yang mirip: diversifikasi risiko, tingkatkan resiliensi.
Pertumbuhan Ekonomi: Beratnya Bergeser ke Timur dan Selatan
Dari sisi ukuran ekonomi, BRICS tidak bisa diremehkan. Jika digabung, PDB riil BRICS (terutama setelah ekspansi ke negara seperti Arab Saudi, UEA, dan Mesir) sudah menandingi atau bahkan melampaui G7 dalam paritas daya beli (PPP). China menjadi lokomotif utama, sementara India muncul sebagai pasar besar dengan pertumbuhan cepat.
Contoh konkret:
- China sudah menjadi mitra dagang utama lebih dari 120 negara, termasuk Indonesia.
- India menjadi salah satu pusat industri teknologi dan layanan digital dunia, dengan kebutuhan infrastruktur pembayaran dan komunikasi yang masif.
- Brasil dan Rusia punya posisi kuat di pasar komoditas—soya, gandum, gas, minyak—yang selama ini di-denominasi dalam dolar.
Kombinasi ini memberi BRICS daya tawar: jika mereka kompak mengurangi penggunaan dolar dalam perdagangan, demand global terhadap dolar bisa perlahan berkurang. Tapi kata kuncinya: jika kompak—padahal kepentingan nasional masing-masing negara sering timpang.
Bagaimana BRICS Mencoba Mengurangi Peran Dolar?
Strategi BRICS untuk mereduksi dominasi dolar tidak datang dalam bentuk satu kebijakan besar, melainkan rangkaian langkah kecil yang jika dikumpulkan bisa mengubah pola arus uang global. Ibarat bisnis yang perlahan memindahkan notifikasi pelanggan dari SMS manual ke WhatsApp API dan push notification, perubahan terasa pelan, tapi jika diukur lima tahun kemudian, polanya berubah total.
Perdagangan Bilateral dalam Mata Uang Lokal
Langkah yang paling sering kita dengar adalah kesepakatan perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (local currency settlement). Contoh:
- China–Brasil: perjanjian untuk menyelesaikan sebagian perdagangan dalam yuan dan real.
- Rusia–India: upaya membayar impor minyak Rusia dengan rupee, bukan dolar.
- China–Rusia: peningkatan drastis penggunaan yuan-ruble dalam transaksi energi.
Bagi Indonesia, skema serupa sudah mulai dicoba lewat Local Currency Settlement (LCS) dengan beberapa negara mitra utama. Meskipun skala transaksinya masih kecil dibandingkan total perdagangan, sinyal politik dan ekonominya jelas: ada keinginan mengurangi ketergantungan pada dolar.
Infrastruktur Pembayaran Alternatif SWIFT
Kekuatan dolar bukan hanya di mata uangnya, tapi juga di sistem yang mengelolanya. SWIFT, jaringan pesan antar bank global, memang bukan milik AS, tetapi pengaruh Barat kuat. Ketika bank Rusia dikeluarkan dari SWIFT sebagai sanksi, banyak negara mulai bertanya: bagaimana kalau suatu hari mereka kena giliran?
China mengembangkan CIPS (Cross-Border Interbank Payment System), Rusia punya SPFS, dan beberapa negara BRICS lain menguji konektivitas regional. Skala sistem ini masih kecil dibanding SWIFT, tetapi sekali lagi, arah geraknya jelas. Seperti bisnis yang membangun backup channel notifikasi lewat Omnichannel dan OTP multi-channel (SMS, WhatsApp, RCS) agar tidak lumpuh kalau satu kanal down, negara-negara ini juga ingin punya plan B di ranah pembayaran.
Wacana Mata Uang BRICS dan Dukungan Komoditas
Salah satu ide yang paling banyak menyedot klik di media adalah gagasan mata uang BRICS yang didukung emas atau komoditas lain. Dalam teori, mata uang semacam ini bisa menawarkan stabilitas dan menarik bagi negara yang ingin keluar dari sistem berbasis dolar fiat.
Tantangannya tidak kecil:
- Siapa yang mengatur? Bank sentral mana yang punya otoritas utama?
- Apakah negara anggota rela mengorbankan sebagian kedaulatan moneternya?
- Bagaimana mekanisme konversi ke mata uang nasional dan sistem perbankannya?
Sampai sekarang, mata uang bersama BRICS masih sebatas wacana politis ketimbang program teknis. Namun ide ini cukup kuat untuk memengaruhi persepsi: jika pasar percaya BRICS serius membangun alternatif, ekspektasi terhadap "masa depan dolar" bisa bergeser, dan itu sudah berdampak pada cara bank sentral menyusun portofolio cadangan devisa mereka.
| Instrumen/Ide | Tujuan Utama | Status Saat Ini |
|---|---|---|
| Perdagangan mata uang lokal | Kurangi penggunaan dolar di transaksi bilateral | Sudah berjalan, tapi skala masih terbatas |
| CIPS, SPFS, dll. | Alternatif sistem pembayaran lintas negara | Masih jauh lebih kecil dibanding SWIFT |
| Mata uang BRICS | Unit akuntansi atau mata uang bersama | Masih wacana, belum ada desain final |
| New Development Bank | Pembiayaan proyek tanpa dominasi dolar | Aktif, tapi skalanya di bawah Bank Dunia/IMF |
Apakah Dominasi Dolar Benar-Benar Terancam?
Setelah melihat ambisi BRICS, pertanyaan besar berikutnya: seberapa realistis skenario runtuhnya dominasi dolar? Di sini, banyak ekonom cenderung mengambil posisi tengah: ya, pangsa dolar kemungkinan akan menurun, tetapi menggantinya sepenuhnya bukan perkara satu dekade.
Kelebihan Dolar yang Sulit Ditandingi
Dolar punya beberapa keunggulan struktural yang sulit disaingi dalam waktu singkat:
- Kedalaman pasar keuangan: Pasar obligasi dan saham AS sangat likuid, memudahkan keluar-masuk dana dalam skala besar.
- Kepercayaan institusional: Meski politik AS sering tampak kacau, hukum kontrak dan perlindungan hak kepemilikan relatif kuat.
- Network effect: Semakin banyak yang memakai dolar, semakin sulit beralih karena biaya transisi tinggi.
Contoh sederhana: eksportir Indonesia yang sudah terbiasa menagih invoice dalam dolar dan mengelola risiko valas dengan hedging akan berpikir dua kali sebelum pindah ke mata uang lain yang pasarnya lebih sempit. Mereka mungkin akan mulai diversifikasi, tapi tidak serta-merta meninggalkan dolar. Di sinilah perusahaan penyedia solusi komunikasi seperti portal ini melihat pola serupa ketika bisnis mulai mengombinasikan SMS, WhatsApp API, dan RCS: bukan mematikan satu kanal, tapi menambah alternatif.
Retakan yang Mulai Tampak
Meski begitu, retakan di fondasi dominasi dolar bukan fiksi. Data IMF menunjukkan penurunan perlahan pangsa dolar dalam cadangan devisa resmi. Di saat yang sama, porsi mata uang lain—yuan, franc Swiss, dolar Australia, bahkan non-traditional currencies—mulai naik.
Tambahan faktor:
- Sanksi finansial terhadap Rusia dan beberapa negara lain membuat bank sentral bertanya: apakah aman menyimpan terlalu banyak cadangan di aset yang bisa dibekukan sepihak?
- Pertumbuhan perdagangan intra-Asia dan Global South yang tidak selalu perlu perantara dolar.
- Eksperimen mata uang digital bank sentral (CBDC) yang pada tahap lanjut bisa mengurangi kebutuhan melewati koresponden bank berbasis dolar.
Namun, alih-alih satu mata uang (misalnya yuan) langsung menggantikan dolar, skenario yang lebih realistis adalah sistem multipolar: beberapa mata uang besar berbagi peran dalam perdagangan, cadangan devisa, dan penetapan harga komoditas. Ini mirip dengan ekosistem komunikasi bisnis modern, di mana tidak ada satu kanal yang mendominasi total. WhatsApp, SMS dengan Sender ID, RCS, email, dan aplikasi internal terhubung via API key dalam arsitektur Omnichannel yang lebih seimbang.
Dampak Potensial bagi Indonesia dan Negara Berkembang
Bagi Indonesia, wacana krisis dolar dan kebangkitan mata uang BRICS bukan sekadar drama geopolitik di televisi. Ia bisa memengaruhi inflasi, suku bunga, hingga stabilitas kurs rupiah—hal-hal yang akhirnya berujung ke harga kebutuhan pokok dan biaya operasional bisnis.
Kurs Rupiah, Harga Impor, dan Ekspor Komoditas
Jika dominasi dolar perlahan berkurang, efek ke rupiah bisa dua arah:
- Positif: Lebih banyak perdagangan dalam mata uang lokal mengurangi kebutuhan memegang dolar sebagai perantara, sehingga tekanan permintaan dolar bisa turun.
- Negatif: Masa transisi yang penuh ketidakpastian bisa memicu volatilitas kurs dan aliran modal jangka pendek yang liar.
Indonesia sebagai eksportir komoditas (batu bara, CPO, nikel) bisa diuntungkan jika suatu saat harga komoditas mulai dinegosiasikan dalam mata uang lain (misalnya yuan untuk kontrak ke Tiongkok). Namun, ini juga berarti pelaku usaha harus semakin melek manajemen risiko multivaluta, bukan hanya USD/IDR.
Di level praktis, banyak perusahaan sudah mulai mengadaptasi sistem pembayaran dan komunikasi mereka dengan fitur multi-kurs di invoice, notifikasi pembayaran otomatis via WhatsApp API, dan OTP lintas negara yang mendukung pelanggan di beberapa wilayah. Portal ini, misalnya, menyediakan infrastruktur Omnichannel yang fleksibel agar bisnis bisa merespons perubahan cara bayar dan cara komunikasi pelanggan tanpa mengubah fondasi IT dari nol.
Kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah
Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sudah menunjukkan sinyal ingin mengurangi ketergantungan berlebihan pada dolar:
- Program Local Currency Settlement (LCS) dengan beberapa mitra dagang penting.
- Penguatan cadangan devisa baik dalam bentuk mata uang maupun emas.
- Partisipasi aktif dalam diskusi regional soal integrasi sistem pembayaran dan mungkin di masa depan, CBDC.
Namun BI juga realistis: dolar masih akan menjadi jangkar utama dalam banyak hal. Itulah kenapa fokus saat ini adalah membangun ketahanan (resilience), bukan revolusi mendadak. Dalam konteks ini, narasi "krisis dolar" lebih tepat dipahami sebagai ajakan untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang, bukan membuang dolar sama sekali.
Teknologi, Keuangan Digital, dan Masa Depan Sistem Moneter
Ketika membahas perubahan sistem keuangan dunia, kita tidak bisa mengabaikan peran teknologi. Dari kartu kredit, internet banking, hingga e-wallet dan QRIS, tiap lompatan teknologi mengubah bagaimana uang bergerak. Pertanyaannya: apakah teknologi juga akan mempercepat pergeseran dari dolar ke mata uang lain atau ke format uang yang sama sekali baru?
CBDC dan Potensi Bypass Sistem Lama
Banyak bank sentral sedang menguji Central Bank Digital Currency (CBDC). China paling agresif dengan e-CNY, sementara negara lain masih dalam tahap uji coba atau kajian. Dalam teori, CBDC bisa:
- Mengurangi biaya dan waktu transaksi lintas negara dengan menghubungkan sistem CBDC antarnegara secara langsung.
- Mengurangi peran bank koresponden dan sistem lama yang sangat dolar-sentris.
- Membuka peluang bagi negara-negara BRICS dan emerging markets untuk merancang jalur pembayaran baru yang lebih setara.
Namun, tantangan teknis, regulasi, dan politiknya tidak kecil. Integrasi lintas yurisdiksi membutuhkan standar teknis bersama (API, protokol keamanan, manajemen API key), belum lagi isu privasi dan siber. Di sini, pengalaman industri komunikasi digital—misalnya penerapan WhatsApp API atau RCS yang harus patuh regulasi data di banyak negara—bisa memberi gambaran betapa rumitnya menskalakan sistem lintas batas.
Fintech, Kripto, dan Eksperimen di Pinggiran Sistem
Di luar bank sentral, fintech dan aset kripto juga bereksperimen di pinggiran sistem moneter. Stablecoin berbasis dolar seperti USDT atau USDC justru memperkuat hegemoni dolar versi digital, sementara beberapa proyek mencoba stablecoin berbasis komoditas atau mata uang lain.
Bagi negara BRICS dan mitra mereka, teknologi ini bisa menjadi:
- Ancaman: jika adopsi stablecoin dolar meluas, ketergantungan ke dolar justru naik.
- Kesempatan: membangun infrastruktur pembayaran berbasis token yang tidak semata dikunci ke dolar.
Namun, volatilitas kripto, isu regulasi, dan risiko kejahatan siber membuat banyak pemerintah mengambil pendekatan hati-hati. Fokus jangka pendek tampaknya tetap pada penguatan sistem pembayaran resmi dan integrasi fintech legal, misalnya lewat API yang diawasi regulator seperti yang dilakukan Kominfo dan otoritas terkait di Indonesia.
Apakah Sistem Keuangan Dunia Benar-Benar Akan Berubah?
Kalau Anda menunggu headline "Dolar Resmi Digantikan Mata Uang BRICS" dalam 5 tahun ke depan, kemungkinan besar akan kecewa. Perubahan sistem keuangan global tidak bekerja seperti itu. Ia lebih mirip pembaruan bertahap di backend sebuah platform besar: modul demi modul diganti, protokol diperbarui, tetapi antarmuka bagi pengguna sehari-hari sering tampak sama.
Dari Unipolar ke Multipolar
Arah tren yang paling masuk akal adalah pergeseran dari sistem unipolar—semua bertumpu pada dolar—ke sistem multipolar di mana beberapa mata uang besar berbagi peran. Dalam sistem seperti ini:
- Dolar masih dominan, tetapi tidak lagi tunggal.
- Yuan, euro, mungkin rupee, dan beberapa mata uang lain mendapat porsi lebih besar.
- Regionalisasi keuangan menguat: Asia, Afrika, Timur Tengah punya ekosistem pembayaran dan pembiayaan internal yang lebih tebal.
Bagi bisnis di Indonesia, ini berarti:
- Perlu meningkatkan literasi keuangan internasional: memahami risiko dan peluang multi-mata uang.
- Meng-upgrade sistem internal agar fleksibel: dari modul akuntansi multivaluta sampai sistem komunikasi pelanggan yang bisa mengirim notifikasi pembayaran dan OTP ke banyak negara lewat kanal berbeda.
- Bersiap menghadapi periode transisi yang mungkin lebih penuh gejolak daripada masa stabil dolar tunggal.
Di level infrastruktur komunikasi, portal ini—dengan produk seperti Omnichannel messaging, WhatsApp API, OTP, dan RCS—sering dipilih bisnis justru karena fleksibilitas ini: ketika peta keuangan berubah, setidaknya jalur komunikasi dengan pelanggan tetap stabil dan dapat diskalakan.
Kesimpulan
Krisis dolar AS dan kebangkitan mata uang BRICS bukan sekadar storyline baru perang dingin versi abad 21. Yang sedang berubah adalah arsitektur sistem keuangan global: dari pusat tunggal menuju banyak poros, dari kebergantungan ekstrem pada satu mata uang menuju jaringan yang lebih berlapis. Proses ini akan panjang, penuh tarik-ulur politik dan teknis, dan dampaknya ke Indonesia akan terasa perlahan, bukan dalam satu malam.
Untuk bisnis dan pengambil kebijakan, kuncinya adalah kesiapan: memahami tren, membangun sistem yang fleksibel, dan tidak menggantungkan diri pada satu sumber risiko. Jika Anda ingin mulai dari hal yang paling dekat—membangun infrastruktur komunikasi pelanggan yang siap menghadapi dunia serba terhubung—Anda bisa menjelajahi solusi Omnichannel, WhatsApp API, dan OTP yang disediakan portal ini, atau langsung hubungi tim kami di /id/coba-gratis untuk diskusi awal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah dolar AS benar-benar akan kehilangan status mata uang cadangan utama dunia?
Dalam jangka pendek, sangat kecil kemungkinan dolar langsung kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan utama. Namun, tren menunjukkan perlahan porsi dolar dalam cadangan devisa global menurun, sementara mata uang lain mulai naik. Yang lebih mungkin terjadi adalah sistem multipolar, bukan pengganti tunggal dolar.
Apakah BRICS akan meluncurkan mata uang bersama dalam waktu dekat?
Sampai sekarang, gagasan mata uang BRICS masih sebatas wacana dan belum ada desain teknis yang disepakati. Tantangannya besar, mulai dari perbedaan kepentingan nasional hingga struktur ekonomi yang berbeda. Lebih realistis jika BRICS fokus dulu pada peningkatan penggunaan mata uang lokal dan penguatan lembaga seperti New Development Bank.
Bagaimana dampak pergeseran ini ke nilai tukar rupiah?
Dalam jangka pendek, fluktuasi rupiah masih sangat dipengaruhi dolar karena sebagian besar perdagangan dan arus modal masih berbasis dolar. Dalam jangka panjang, jika perdagangan lokal currency settlement meningkat dan sistem regional menguat, ketergantungan ke dolar bisa berkurang, meski periode transisi bisa memicu volatilitas tambahan.
Apa yang bisa dilakukan pelaku bisnis Indonesia menghadapi perubahan ini?
Pelaku bisnis bisa mulai dengan meningkatkan literasi finansial internasional, mengembangkan kemampuan manajemen risiko multivaluta, dan memperbarui sistem internal agar fleksibel terhadap perubahan cara bayar dan kanal komunikasi. Menggunakan solusi Omnichannel, WhatsApp API, OTP, dan SMS berbasis Sender ID dari portal ini adalah salah satu langkah praktis untuk menjaga stabilitas komunikasi di tengah ketidakpastian finansial.
Apakah teknologi seperti CBDC dan kripto akan mempercepat runtuhnya dominasi dolar?
Teknologi seperti CBDC dan aset kripto bisa mempercepat perubahan pola pembayaran dan penyimpanan nilai, tetapi arah pastinya tergantung bagaimana pemerintah dan pasar mengadopsinya. CBDC yang terintegrasi lintas negara berpotensi mengurangi peran infrastruktur dolar, sedangkan stablecoin berbasis dolar justru bisa memperkuat hegemoni dolar dalam bentuk digital.
Topik



